Aping Blog Just Another FUNtastix Blog

Pengalaman 1 Tahun Bersama Honda Genio

Di tulisan ini saya akan memberikan review, opini, dan pengalaman selama memakai motor Honda Genio untuk mobilitas sehari-hari. Saya akan coba mengulas secara lengkap dan objektif tentang apa aja sih kelebihan dan kekurangan motor Honda Genio ini. Setidaknya jika dilihat dari sudut pandang saya selaku konsumen.

Motor Honda Genio (selanjutnya saya sebut Genio aja) yang saya punya adalah produksi tahun 2020, meskipun saya beli pada media tahun 2021. Sengaja pilih edisi tahun lawas karena dapat potongan harga lumayan besar 🤭 Warna yang dipilih juga warna favorit, silver metalic ✌🏻 Kebetulan warna itu termasuk langka dan tak lagi muncul pada produksi tahun-tahun berikutnya.

Saya beli varian CBS non-ISS. Selain yang ISS lebih mahal, saya juga tidak tertarik memakai fitur itu. Dulu malah pernah ada yg komen, gara-gara fitur ISS diaktifkan pas berhenti memang motornya mati, tapi malah tidak hidup-hidup lagi 😂

Harganya Murah

Alasan pertama saya memilih motor Honda Genio daripada motor lain seperti Honda Beat, Yamaha Mio, atau Suzuki Nex itu adalah harganya. Untuk sekelas motor entry level, harganya termasuk yang paling murah- meskipun masih lebih mahal daripada Honda Beat atau Suzuki Nex.

Di pabrikan yang sama, harga Honda Beat memang lebih murah. Tapi pangsa pasarnya sudah berbeda karena Beat lebih difokuskan buat kalangan anak muda. Kalau Genio lebih mengincar pasar keluarga kecil, penggemar desain semi klasik, dan yang secara usia sudah lebih ‘matang’ karena memang tak semua orang suka bentuknya.

Dengan harga yang sudah termasuk ‘murah’, Honda Genio punya beberapa fitur menarik dibanding kompetitor seperti adanya port charger di bawah jok dan side-stand switch yang otomatis mematikan mesin ketika standar samping dibuka.

Desain Klasik Nan Maskulin

Alasan kedua saya memilih Genio itu memang bentuknya. Honda Genio mengadopsi desain semi klasik pada banyak guratan bodinya. Konturnya dominan membulat mirip vespa dan tampak ‘semok’ tapi dipadukan dengan teknologi terbaru seperti penggunaan headlamp yang sudah menggunakan LED.

Di pasaran, desain semi klasik ini juga diadopsi oleh Yamaha Fino (kebetulan dulu pernah punya) dan Suzuki Lets (sudah discontinue). Yamaha memang baru menelurkan motor anyar, Yamaha Fazzio. Tapi menurut saya desainnya jadi ‘wagu’, ndak jelas. Seolah maksain desain vespa dengan ‘rasa’ Yamaha. Apalagi buritannya… Nggak bangeeett!!!

Kalau dibandingkan dengan Yamaha Fino, Honda Genio tampak lebih maskulin. Meskipun sama-sama ‘bulat’, masih ada garis-garis kaku nan tegas yang bisa dilihat dari bentuk headlamp, lampu sein, setang telanjang, deck rata, sampai bodi belakang yang meruncing. Jadi memang lebih cocok buat laki-laki.

Saya sih ngerasa lebih percaya diri aja kalau naik Genio daripada Fino. Bentuknya yang macho dan laki banget (meskipun motor matic) membuatnya lebih betah dikendarai. Joknya juga cukup lebar meskipun kalah empuk dibandingkan Fino.

Velg juga jadi poin plus kenapa motor ini jadi layak dibeli. Velg palang 5 dengan ukuran 14” yang modern ini sudah cukup keren. Apalagi kalau dibandingkan dengan velg ‘sejuta umat’ ala Yamaha Fino yang desainnya itu-itu aja 🤪

Rangka eSAF

Honda Genio sudah menggunakan rangka eSAF (Enhandced Smart Arcitecture Frame). Sederhananya sih memakai teknologi ala sasis mobil, bukan dari pipa, tapi dari plat baja yang ditekuk dan di-press lalu dilas laser. Jadi sifatnya lebih ringan, tapi juga kaku dan kuat di saat yang bersamaan.

Dari review motologger yang seliweran di internet sih katanya rangka eSAF ini lebih tahan defleksi (pembengkokan). Pengendaliannya juga bakal lebih mudah, lebih lincah, juga gesit. Siapa yang tidak kesengsem coba? 🤤

Selama saya wira-wiri dengan Genio memang motor ini terasa ringan dan lincah, nurut buat ditekuk. Apalagi bobotnya yang tidak sampai 90 kg, istri juga gak kesulutan buat standar tengah.

Yang jadi catatan, saya sering mengalami feeling seolah bannya kempes/gembos ketika Genio melewati jalan yang tidak rata atau ketika melindas marka jalan. Rasanya ban jadi licin sekali. Sepertinya dari kualitas ban atau setelan fork depan yang terlalu kencang 🤔

Shock-nya juga termasuk keras buat saya. Ketika lewat polisi tidur atau melindas lubang di jalan langsung terasa jedag-jedug. Kurang empuk, jadi agak khawatir juga kalo yang mengendarai ibu-ibu hamil atau pas bawa barang belanjaan banyak.

Mesin Genio

Honda Genio pakai mesin eSP (enhanced Smart Power) berkapasitas 110 cc SOHC dengan sistem pembakaran injeksi PGM-Fi. Diameter langkahnya 50mm x 55,1 mm (over-stroke) dengan torsi tinggi yang bisa diperoleh di putaran bawah.

Jadi karakternya seolah bertenaga, digas sedikit langsung ngacir. Minusnya, putaran atasnya lambat. Setelah menyentuh 75 km/h mulai susah untuk naik lagi. Tidak cocok untuk kamu yang suka kebut-kebutan di jalan. Makanya ada yang sampai menjuluki Genio sebagai motor keong 😂

Ditambah lagi karena karakter mesinnya, motor Genio ini terkenal tidak kuat menanjak. Satu catatan penting untuk pabrikan, dimana konsumennya bisa berasal dari daerah mana saja se-Indonesia.

Sayang kapasitas mesin hanya 110 cc, coba 125 cc mungkin akan lebih nyaman (seperti Fino saya dulu). Pas dipakai sih memang konsumsi bensinnya irit. Tidak pernah ngitung KPL, tapi setidaknya saya jarang mampir ke POM bensin.

Kekurangan Honda Genio

Tadi sudah saya sebutkan beberapa kekurangan Honda Genio. Kalau sekarang saya coba tambahkan lagi beberapa kekurangan atau kelemahan Honda Genio yang saya rasakan.

Genio itu lemot. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, karakter mesin Genio memang buat mengejar torsi tinggi di RPM rendah. Tapi yang saya rasakan, buat nanjak aja berat banget. Apa saya yang salah paham ya soal ‘torsi’ ini?

Kadang juga saya merasa Genio ini tidak enak dikendarai. Feel-nya berat padahal di jalan datar, tapi kadang rasanya ngacir banget jadi seperti tidak stabil dan konsisten gitu. Jujur saya tidak paham karena bukan anak motor, kalau boleh menebak sih sepertinya dari pengaturan ECU yang bermasalah.

Lampu senja atau rem belakang dan lampu plat nonor masih memakai bohlam biasa, bukan LED. Memang tidak krusial, tapi akan lebih bagus kalau sudah LED kan?

Berikutnya adalah soal pengereman yang memganut sistem CBS (combi brake system). Gampangnya, ketika tuas rem depan di tekan maka tuas rem belakang akan ikut tertekan kurang lebih sebanyak 60%. Jadi cukup dengan menekan tuas rem di sebelah kanan maka motor kamu sudah bisa berhenti dengan baik, asalkan tidak dalam kecepatan tinggi.

Buat saya, aneh rasanya ketika tuas rem depan yang ditekan dan yang belakang ikutan ngerem. Kadang ban sampai selip sampai motor mau jatuh ketika hard-breaking karena sistem CBS gagal menyalurkan proporsi rem secara tepat. Kalau bisa dilepas mending saya lepas aja sistem CBS ini 😩

Kekurangan terakhir yang saya rasakan adalaaah,,, kaca spionnya berjamur 😭 Kayaknya saya aja sih yang mengalami, namanya juga beli motor yang sudah ngendon lama di gudang 😖 Mau beli lagi, eh ternyata harganya mahal 🥵

Kelebihan dan Kekurangan Honda Genio 2022

Sekarang saya coba komparasi motor Honda Genio generasi pertama yang saya punya sama Genio terbaru versi 2022.

Saya belum pernah naik generasi kedua, tapi dari review dan berita di internet katanya tidak ada perubahan di sektor mesin. Jadi sifatnya hanya minor change aja.

Yang pertama dan paling menonjol yaitu Genio generasi kedua ini sudah pakai velg 12” punya Scoopy. Dari lingkar velg sampai desain palang betul-betul plek sama Scoopy. Memang sih dari grup motor Genio yang saya ikuti di Facebook, semua pada bilang kalau Genio itu cocok ya pakai velg 12” daripada 14” jadi kesannya lebih imut dan unyu-unyu gitu.

Cuma sayangnya, velg Scoopy tidak bisa begitu aja dipasang langsung ke Genio. Tidak pas, harus ada yang diubah seperti penambahan spacer atau bubut velg. Posisi bannya juga nanti akan sulit buat center, jadi agak miring dan tidak enak dilihat.

Semua yang sudah pasang velg 12” juga mengeluh performa motornya jadi drop. Tarikannya tambah berat katanya 😆 Jadi kalau tetap nekat pasang, mau tidak mau harus main ‘kirian’, ngoprek jeroan mesin untuk mengimbangi dimensi velg yang berubah.

Buat saya, velg 14” itu sudah yang terbaik. Saya malah ngerasa aneh kalau desain Genio yang macho dipadukan sama velg Scoopy yang membulat bak donat. Apalagi tahu sendiri kan kalau harga ban ukuran 12” itu rata-rata lebih mahal dan lebih sulit dicari?

Perbedaan kedua dari Honda Genio 2022 ini adalah posisi port charger yang berpindah dari bawah jok ke laci/rak depan sebelah kanan. Kalau saya sih Big NO NO NO. Sudah mengurangi penggunaan laci, eh malah terekspos orang jadi rawan dicuri kalau sampai lupa tidak mencabut HP yang lagi di-charge.

Belum lagi faktor keamanannya. Gimana kalau kena hujan lebat atau banjir? Amankah posisi port charger di bagian depan seperti itu? Menurut saya masih jauh lebih baik posisi port charger di bawah jok. Mungkin kembali ke selera orang aja katena ada juga kan orang yang lebih suka charge HP di laci depan.

Penutup

Punya opini atau cerita lain soal motor Genio kamu? Yuk share di kolom komentar 🤗

Last update:

Otomotif Review

Tren Bersepeda di Tahun 2022 Review 10 Tahun Pemakaian P...